Senin, 25 November 2013

Nama   : Muhamad Yahya
NIM    : 1102413018

Senandung Pinggiran Jakarta
            Pagi ini hujan kembali turun, membasahi kembali tanah-tanah merah kecoklatan nan tandus di kota yang sudah tenar dengan sebutan kota metropolitan ini. Jakarta, kota yang menjadi ibukota dari Indonesia ini menyimpang seribu satu kisah pilu seorang wanita setengah baya bernama Pramesti bersama kedua putra laki-lakinya, Giri dan Yoga. Pagi ini wanita berperawakan tinggi kurus dengan kulit sawo matang ini kembali terdiam di teras rumah sederhana peninggalan almarhum kedua orang tuanya yang bisa dibilang tidak terlalu layak untuk sekedar di tinggali, hanya sebagai peneduh di saat teriknya surya membelai hangat rambut kusamnya yang sudah mulai memutih dan pelindung saat kejamnya curahan air langit menghujam seluruh badan kurusnya.
            “Hemm”.
            Sekali lagi Pramesti mendengus, bukan mendengus kesal ataupun sebuah dengusan jengah atas semua yang sudah ia alami selama 48 tahun ia lahir ke dunia sandiwara ini. Melainkan sebuah dengusan kepasrahan atas getirnya hidup seorang janda beranak dua yang hidup tanpa ada saudara. Matanya menerawang jauh di antara guyuran titik-titik cair dari langit yang kian melebat mengaburkan pandangannya yang mulai tak jelas. Menatap nanar tiap butiran yang jatuh tanpa ampun pada genangan-genangan coklat di depan rumahnya. Pramesti tak sedang melamun, namun pandangannya kosong. Raganya dan pikirannya sedang tak benar-benar dalam satu lokasi. Pikirannya terbang jauh pada semua masalah yang seakan terus membelit kuat pada nadi kehidupannya.
            Kali ini ia lempar pandangannya pada sebuah kertas kuning bertuliskan jejeran angka-angka yang menjadi penyebab utama beban pikirannya. Sekumpulan jejeran angka yang telah ia jumlahkan kini kembali menyita pandangannya.
            “Tujuh ratus dua puluh lima ribu.” Pramesti memijat pelipisnya yang sendari tadi berdenyut. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu. Di sampingnya terpampang sebuah tulisan berhuruf tebal yang cukup jelas untuk dibaca mata tua Pramesti, Rincian uang seragam.
            Baru lusa kemarin Pramesti datang ke sekolah baru Yoga, di sana ia sempat beradu dengan kepala sekolah setempat. Ia menilai nominal tersebut sangat besar. Hanya untuk untuk lima setel kain seragam, yakni dua OSIS, dua batik, dan satu Pramuka, dia harus mengeluarkan dana Rp 725.000. Tentu itu bukan nominal yang kecil untuk sebuah keluarga yang hanya bertumpu pada seorang wanita tua yang sudah mulai renta sebagai tulang punggungnya. Pramesti sadar, ia masih memiliki satu tanggungan anak yang juga harus ia biayai sekolahnya, anak sulungnya yang juga baru menginjak masa sekolah di Sekolah Menengah Pertama.
            Dengan menunjukkan surat-surat keputusan dinas setempat, kepala sekolah menjelaskan secara detail dasar keputusan sekolah menetapkan harga untuk baju seragam bagi murid-murid baru, sekaigus surat yang menyatakan bahwa setiap siswa baru wajib membeli kalin dari sekolah dengan alasan keseragaman antar siswa di sekolah tersebut. Keputusannya tidak bisa di ganggu, tetap tidak ada pengurangan biaya seragam bagi Yoga. Pramesti diam, tidak ada jalan lain, ini peraturan sekolah baru Yoga.
            “Bu.”
            Sebuah suara berhasil menyeret kembali Pramesti ke dunia nyatanya. Ia menoleh, seorang sosok jangkung berusia 15 tahun tengah mengamatinya dari balik pintu rumahnya. Yoga, putra sulungnya.
            “Yoga, sejak kapan kau ada disitu nak ?” tanya Pramesti tergagap. Segera ia menarik kertas kuning yang sekarang sudah berhasil ia sembunyikan di balik punggung tuanya. Namun sepertinya sia-sia, mata sayu Yoga sudah terlanjur melihat kertas yang sendari tadi menyita perhatian orang tua tunggalnya itu sekarang.
            “Aku bisa melanjutkannya tahun depan bu, jangan terlalu dipikirkan.”
            Seutas senyum kini tersungging dari bibir munggil Yoga. Sebuah senyum yang cukup bisa diartikan maksudnya. Antara senyum keputus asaan dan senyum kegetiran.
            “Apa yang kau bicarakan ? Anak ibu tidak boleh berhenti sampai disini.” Jawab Pramesti seraya mengusap lembut rambut putra tertuanya itu.
            “Aku tidak apa-apa bu. Toh Giri lebih membutuhkan uang itu sekarang , aku masih bisa mengulangi tahun depan. Tapi Giri ? Dia lebih membutuhkan uang itu.”
            “Lagi pula, Yoga ingin berhenti dulu satu tahun dari sekolah. Yoga ingin membantu ibu, pekerjaan ibu terlalu banyak.Yoga tidak ingin ibu terlalu lelah bekerja, Yoga ingin bekerja. Yoga sudah mendapat pekerjaan, minggu depan toko pak Amir yang ada di ujung gang akan dibuka, Yoga sudah mendaftarkan diri menjadi karyawan disana. Minggu depan Yoga akan mulai bekerja.” Tambah Yoga lagi.
            Mulut Pramesti terkatup, seakan tak ingin ia buka, ia tatap dalam-dalam wajah anak sulungnya itu. Tampak lebih dewasa. Ya, Pramesti sadar. Anaknya kini sudah beranjak dewasa, dia sudah mulai berfikir tentang hidup. Wanita yang biasa di panggil Asti itu tersenyum, diam-diam ia bangga.
            “Ibu bisa membiayai kalian berdua nak. Ibu sudah berjanji pada almarhum ayahmu.”
            Mata Pramesti memanas, ia tau akan mengalir suatu benda bening dari kedua bola matanya. Tapi ia tak bisa melakukannya, ia harus mengajarkan sebuah ketegaran hidup pada anak-anaknya.
            “Masih ada waktu untuk melunasi semua tanggungan seragam sekolahmu. Ibu masih bisa bekerja, kau dan adikmu tidak boleh berhenti sekolah.”
            “Niatku sudah bulat bu.” Jawab Yoga mantab.
            “Terimakasih sudah ada niat untuk membantu ibu, tapi impianmu untuk terus bersekolah tidak boleh berhenti hanya karena 5 potong kain berukuran 2 meter yang harusnya akan segera kau pakai bulan depan. Kau dan adikmu harus menjadi “orang”. Kalian yang nantinya kelak akan membanggakan ibu, hanya kalian. Hanya anak-anak ibu. Jadi sudah, kau menurut saja, kalian akan terus bersekolah. Ini urusan ibu, tugas kalian hanya belajar.”
            Kembali, dua ujung bibir Pramesti sedikit tertarik keatas demi menguatkan kata-kata yang baru ia keluarkan dari bibir pucatnya.
            “Tapi bu, aku bisa membantu ibu.” Tatap Yoga yakin.
            Pramesti menggelengkan kepalanya lembut. Ia bersikeras memberikan yang terbaik untuk kedua putranya. Pendidikan kedua putranya lebih penting di atas segalanya, walaupun kenyataannya biaya pendidikan yang tak bisa dibilang ringan terus saja menggerogoti hidup Pramesti dan kedua anaknya serta ribuan bahkan jutaan nyawa yang membutuhkan pendidikan dari keluarga dengan penghasilan jauh dibawah rata-rata di luar sana. Pramesti tau, belakangan ini pemerintah sering menggencarkan program Biaya Operasional Sekolah. Pramesti sendiri bersyukur, bantuan itu sudah sedikit cukup dapat meringankan beban pikirannya. Walaupun di baliknya masih ada sekumpulan biaya yang harus ia keluarkan demi kelancaran pendidikan kedua anaknya, termasuk biaya seragam sekolah.
            Pramesti membuang lagi pandangannya jauh keluar. Hujan masih dengan setia mengguyur tanah tandus kampung halamannya ini. Langit abu-abu yang menggantung bebas di atas atap rumahnyapun seakan menggambarkan segerombol mendung yang juga menjejal di pikiran Pramesti. Hidup ini keras, dan aku akan menjadi lebih keras darinya.
                       


Kamis, 14 November 2013

MIMPI AENI (cerpen oleh Winda Falah S. A.)



Panas seperti ini tidak membuat orang-orang yang menghuni kota ini sadar bahwa lapisan ozon bumi kita telah menipis dan memerlukan penghijauan agar udara panas dapat sedikit terkurangi.
Beralih dari udara panas kota di siang ini. Segerombolan anak yang duduk di pinggiran jalan tampak lebih menarik perhatianku. Mereka tampak kotor tak terurus. Kulit hitam menandakan bahwa mereka seringkali terkena paparan sinar matahari kota Jakarta. Belum lagi baju mereka yang tampak kumal dan usang. Seakan-akan benar menandakan bahwa mereka adalah anak-anak jalanan yang katanya dipelihara oleh negara.
Kondisi anak-anak yang aku lihat siang ini benar-benar membuat aku merasa trenyuh. Mereka tampak tidak terurus dan entah apakah mereka mendapat pendidikan yang layak atau tidak. Aku prihatin dan turut memikirkan bagaimana pendidikan para generasi penerus bangsa ini. Bagaimanapun kurang lebih 20 tahun kedepan mungkin merekalah yang akan meneruskan memimpin bangsa.
Keasyikan menceritakan mereka anak-anak yang sungguh membuatku miris dengan keadaan, aku malah lupa menyampaikan kepada kalian siapa aku ini.
Namaku Aeni, aku lahir 23 tahun yang lalu di sebuah daerah pedesaan. Di desa Cibuyur tepatnya. Sebuah desa di selatan kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Aku dilahirkan dari keluarga yang cukup berada. Ayahku adalah seorang pengusaha. Aku pindah ke Jakarta sekitar 4 tahun yang lalu setelah aku lulus dari SMA dan melanjutkan studyku di Universitas Indonesia prodi Psikologi. Alhamdulillah tahun lalu aku berhasil menyelesaikan kuliahku.
●●●

“Nduk.. mau kemana kamu pagi-pagi begini kamu sudah rapih seperti itu ?”
“Jalan-jalan mah. Nyari sesuatu yang beda aja”
“Aku pergi ya mah” aku berjalan meninggalkan rumah setelah sebelumnya mencium tangan mamah dan tidak lupa untuk mengucap salam.
Pagi ini aku langkahkan kaki tanpa tujuan yang jelas di di tengah ramainya ibukota ketika pagi. Tiba-tiba aku teringat akan anak-anak yang aku temui kemarin. Entah apa yang membuatku begitu tertarik dengan mereka.
Aku menghampiri seorang anak yang duduk di dekat trotoar dengan setumpukan koran di lengannya.
“Hai, sedang apa kamu ?”. anak itu tampak melihatku dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Mungkin dalam benaknya siapa aku ini mengganggu keasyikannya.
“Menghitung koran yang tersisa” jawabnya singkat.
“Oh.. ada berita apa hari ini ?”. Dia menggelengkan kepala .
“Tauk. Aku gak bisa baca.” Miris. Seorang penjual koran yang semestinya bisa mengetahui tentang berbagai macam berita, malah tidak bisa membaca dengan baik berita tersebut.
“Apa kamu tidak sekolah ?”
“Tidak ada biaya. Mending jual koran aja bisa dapet uang buat makan.”
“Kamu ingin bisa membaca dan menulis ?”
Dia tampak menganggukan kepala. Aku pun tersenyum. “Tapi, sekolah itu mahal ! bagaimana aku bisa belajar membaca dan menulis sedangkan aku tidak sekolah.”
“Namamu siapa ?”
“Panggil aja Encus. Disini semua teman-temanku memanggilku seperti itu.”
Aku tersenyum. Aku tahu betul bahwa sebenarnya anak yang aku temui ini memang benar-benar ingin bisa membaca dan menulis.
“Oke Encus, kakak bisa ajari Encus membaca dan menulis, gak usah bayar. Gratis buat Encus.”
“Wahh,,, asyikk !!!”
“Ajak teman-teman yang lain yah. Besok kakak akan kesini lagi.”
Encus mengangguk menyetujui perkataanku.
Aku sedikit lega, niatanku untuk sedikit membantu anak-anak itu sedikit demi sedikit dapat terealisasi. Sekarang, aku tinggal memikirkan dimana tempat yang cocok untuk mereka belajar.
“Aku jualan koran dulu kak.”
“Iya.” Jawabku sembari tersenyum kepada Encus si kecil penjual koran. Aku berjalan pulang dengan senyum yang tetap mengembang di wajahku. Senyum gembira karena mimpiku untuk membantu pendidikan akan terwujud.
Sesampainya di rumah ibuku tengah asyik dengan telenovela faforitnya.
“Hari ini bagaimana kabar vulgoso mah ?”
“Oh dia berjalan-jalan dengan Marimar di sekitar pantai hari ini.” Cerita mamah tentang telenovela berjudul Marimar di televisi.
“Seharian ini aku berjalan-jalan di tengah kota mah, aku menemui anak-anak penjual koran. Dan mirisnya, ketika aku bertanya apa berita hari ini, dia menjawab bahwa dia tidak bisa membaca. Anak kecil seumuran dia kan seharusnya mendapatkan bangku sekolah yang layak, malah berjualan koran dan tidak dapat membaca koran yan ia jual mah.” Ceritaku pada mamah yang masih asyik menonton televisi.
Mamah diam sejenak. “Ya seperti itulah, mereka yang menginginkan pendidikan yang layak namun terhalang oleh kemiskinan. Memang ada subsidi untuk pendidikan dari pemerintah. Tetapi, biaya untuk membeli seragam, buku, dan lain-lain juga kan mereka yang membiayayai sendiri.
“Aku ingin membantu mereka mah.”
“Dengan cara apa ?”
“Aku ingin mengajari mereka membaca dan menulis. Mungkin hanya itu yang dapat aku lakukan untuk mereka. Namun, mungkin itu sedikit bermanfaat untuk mereka.”
“Apapun yang kamu lakukan, mamah akan selalu mendukung sayang. Selama apa yang kamu lakukan itu positif.” Kata mamh sambil membelai lembut rambutku. Aku merasa begitu beruntung mempunyai mamah yang selalu mendukungku. Mendukung di setiap langkah-langkahku.
●●●

Hari berganti, pagi ini aku telah berjanji dengan Encus dan kawan-kawannya untuk bertemu dipinggir jalan saat kemarin kita bertemu. Aku mengikat rambut panjangku. Tak lupa aku kenakan jam tangan kesayanganku yang telah menemani aku selama bertahun-tahun.
“Anak mamah pagi ini cantik sekal.” Ujar mamah yang ternyata memperhatikanku berias sedari tadi.
“Iya dong mah. Pagi ini aku ingin menemui Encus bersama teman-temannya.”
“Sepagi inikah ?”
“Ya ! aku sangat bersemangat pagi  ini.”
Mamah tampak tersenyum. “Ya sudah, ayo sarapan, nanti kamu beragkat sekalian sama papah aja. Sepertinya papah pagi ini tidak terlalu terburu-buru.”
“Iya mah.” Aku mengiyakan perintah mamah. Aku keluar dari kamar setelah bersiap-siap. Entah apa yang menyebabkan pagiku kali ini terasa berbeda. Mungkin karena Encus dan teman-temannya.
Mobil melaju cepat meninggalkan rumah. Papah tampak terburu-buru mungkin takut terkena macet. Padatnya kendaraan pagi di kota jakarta memang biasa. Waktu telah menjadi acuan bagi kebanyakan masyarakat Jakarta.
Aku turun dipinggir jalan tepat dimana aku dan Encus kemarin bertemu. Papah kembali memacukan mobilnya dengan cepat setelah menurunkan aku. Aku melihat Encus bersama dengan segerombolan anak. Ia tampak membawa sebuah buku usang sera pinsil. Aku segera menghampiri Encus dan kawan-kawannya.
“Ini teman-temanku kak. Mereka juga ingin belajar membaca dan menulis.” Aku tersenyum mendengar Encus memperkenalkan teman-temannya .
“Bagaimana kalau kita mulai sekarang ?”
“Ayoo. Ayoo..” seru semua anak. “Bagaimana kalau kita belajar disana saja ?” tampak seorang anak menunjuk tempat yang berada tepat dibawah jalan layang. Aku terdiam sejenak.
“Iya kak, disana saja.”suara anak-anak itu menyadarkan aku dari diamku. Aku tersenyum dan berjalan menuju tempat yang ditunjuk tadi. Sungguh tempat yang jauh dari kata nyaman. Aku tak yakinapakah tempat ini cocok untuk belajar mereka. Sudahlah.. toh mereka sendiri yang meminta untuk belajar disini.
“Cus.. mau kemana kamu ?” suara seorang anak menahan langkah kami.
“Belajar.”
“Hahaha.. belajar buat apa ? aku nggak bisa baca sama nulis aja masih bisa dapet duit dari ngamen !”
Encus menjulurkan lidahnya dan mengajakku untuk cepat menuju tempat belajar kita.
“Siapa dia Cus ?” Aku menghampiri Encus. “Daeng.” Jawab Encus singkat.
“Mengapa dia tidak ikut belajar bersama kita ?” “Sudah aku ajak. Tapi dia tidak mau kak.” “ooh..”
Aku mengerti, enggan bergerak dari zona nyaman seseorang memang suatu kendala tersendiri. Anak-anak ini telah melakukan kegiatan sehari-hari mereka selama bertahun-tahun dan aku harus melakukan suatu kegiatan yang lebih menarikdari kegiatan mereka sebelumnya. Aku mulai mengajari mereka membaca dan menulis.
“Daeng..” anak itu menoleh ke arahku.
“Kamu sedang apa ?” “Ngitung duit.” Jawabnya singkat.
“Apakah kamu suka menyanyi ?” “Ya.” “Kamu mau aku ajari menyanyi ?” Daeng memalingkan sejenak wajahnya kepadaku. Matanya tampak berbinar. “Tidak, terimakasih.” Daeng berlalu pergi.
Hem, mungkin, sore ini aku belum berhasil membujuknya bergabung dengan kelompok belajar kami. Tapi aku yakin esok pasti aku bisa membujuknya,
●●●

Sabtu. Dulu hari sabtu seperti ini aku masih bermalas-malasan didalam rumah. Namun sabtu pagi ini aku sudah bersama anak-anak kelompok belajarku. Aku membawa sebuah gitar. Aku ingin mengajak mereka bernyanyi.
“Oke teman-teman, sekarang kita nyanyi-nyanyi yaa.”
Aku mulai memetikkan gitarku. Mengiringi Encus bersama teman-temannya bernyanyi.
“Hei ! nyanyi kok kaya gitu. Main gitar kok fals. Sini !” Tiba-tiba Daeng menghampiriku dan merebut gitar yang tengah aku mainkan. Aku tersenyum dan membiarkan ia memainkan gitarku.
Aku memandang mereka  dari kejauhan. Mereka tampak bahagia. Setelah lagu berhenti, aku menghampiri mereka. Aku memandangi Daeng. Ia tampak senang bisa mengiringi teman-temannya bernyanyi.
“Daeng, kamu mau bergabung bersama kami ?” Daeng tampak diam. Dia memikirkan sesuatu mungkin. Tiba-tiba Daeng menganggukkan kepala. Akhirnya, hari ni aku berhasil membuatnya tertarik dengan kelompok belajarku.
●●●

Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa sebulan sudah aku bersama anak-anak kelompok belajarku. Sore ini aku melangkah gontai menuju kamarku.
“Aeni, mengapa kamu tampak lesu sepreti itu ?” suara papah menahan langkahku. Tumben sekali beliau sore ini sudah berada di rumah.
“Papah sudah pulang ?”
“Sini nduk duduk. Kebetulan kerjaan papah selesai hari ini, jadi papah pulang cepat.”
“Oh.” Jawabku singkat.
“Kenapa kamu tampak lesu ? ada masalah ?”
“Pah sebulan lebih aku bersama-sama dengan anak-anak kelompok belajarku. Aku merasa senang dengan mereka. Encus, Daeng dan teman-temannya. Mereka tampak antusias saat aku ajari membaca dan menulis. Mereka juga tidak keberatan saat aku harus membagi waktu antara pekerjaan mereka dan belajar bersamaku.”
“Lalu ?” jawab papah tampak menyelidiki.
“Aku mendengar bahwa tempat belajar kami akan diterbitkan pah. Dibawah jalan layang itu akan dibersihkan dari sampah, kardus-kardus dan hal lain yang mengotori. Lau diman aku bersama anak-anak itu harus belajar pah ? aku bingung harus bagaiman, dan berbuat apa. Sebagai seseorang yang mengajari mereka, aku tidak mau jika kelompok belajarku dibubarkan sia-sia dan sampai disini saja.”
“Oh.. papah mengerti. Sekarang, istirahatlah dn pasti kamu akan menemukan jalan keluar sayang.”
Aku melangkahgontai menuju kamarku. Entah apa yang akan terjadi esok.
●●●

Benar saja, pagi ini aku melihat tempat belajarku bersama Encustelah tiada.tempat itu rapih dan bersih. Aku lemas. Entah apa yang harus aku lakukan. Encus dan teman-temannya menangis. Mereka tampak begitu sedih.
“Aeni.. papah punya sesuatu buat kamu.” Aku terkejut menyadari papah ada dibelakangku.
Papah mengajakku bersama Encus dan teman-temannya ke suatu tempat. “Aeni, papah ingin kelompok belajarmu masuk ke yayasan ini. Kamu tetap bisa mengajar dan bertemu merekatanpa kebingungan tentang tempat lagi.”
“Terimakasih pah..” aku menangis terharu dan memeluk papah.
Aku merasa begitu senang. Kelompok belajarku mendapatkan tempat yang layak untuk belajar. Mereka tampak begitu semangat dan memiliki antusias yang tinggi dalam belajar. Aku merasa mimpiku nyata terwujud.

SELESAI

Rabu, 13 November 2013

Ujian Masalah Nasional

Reva sedang duduk di koridor sekolah, sambil membaca buku, tapi dia tidak sedang benar-benar membaca, dia hanya membolak mbalik buku tersebut, tatapannya  menerawang jauh. Reva adalah siswi kelas 12 di salah satu SMA negeri di daerahnya, dia hidup dalam keluarga ya boleh di bilang hancur karena ayah dan ibunya bercerai sejak dia kelas 2 SMP. Seperti anak-anak kelas 12 pada umumnya dia sedang mempersiapkan  diri untuk menghadapi Ujian Nasional, sebuah moment dimana semua siswa akan mengalami  ketakutan dan akan merasakan tekanan batin.
“kamu udah siap buat ulangan fisika nani rev?” Tanya salah seorang sabatnya
“entahlah aku merasa sudah bosan dengan materi ataupun  soal yang bapak guru berikan selama ini, apakah tidak ada cara lain yang lebih efektif untuk kita bisa memahami materi?” jawabnya sambil menerawang (ngalamun) raut mukannya seakan memperlihatkan bahwa dia memang benar-benar bosan
“aku juga merasakan  hal yang sama seperti kamu, mungkin bukan cuman aku dan kamu teman-teman yang lain mungkin juga merasakan hal yang sama, tapi apa boleh buat ini lah yang harus kita hadapin rev, Ujian Nasional” 
Reva hanya terdiam mendengar penjelasan sahabatnya itu, dia berfikir apa yang sahabatnya katakana itu ada benarnya. Bukan hanya dia yang merasakan sebuah kecemasan, kejenuhan, dan tekanan batin yang sangat luar biasa. Ternyata teman-temannya juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan saat ini. Memang tidak mudah mengubah pola pikir dari kelas 11 yang hanya memikirkan senang-senang, nongkrong bareng, dan cuman hura-hura. Sekarang di hadapkan dengan masalah yang boleh di bilang cukup serius yaitu Ujian Nasional. Semua kebiasaan yang ada di kelas 10 dan kelas 11 harus berubah menjadi kebiasaan dimana dituntut untuk belajar, memahami, dan menghafalkan materi yang sudah di tetapkan dalam SKL.
***
Ketika dirumah dia juga harus belajar dengan di awasi oleh ibunya. Semua alat komunikasi disita selama reva menghadapi Ujian Nasional. Jam belajar sekarang juga di batasi dari jam setengah 7 sampai jam 9 malam, bahkan dia harus bangun  jam 4 pagi untuk melanjutkan belajar. Itu semua membuat reva menjadi tambah tertekan, dan frustasi dia merasa bahwa dia sangat tidak suka dengan keadaan seperti ini. tekanan-tekanan seperti itu bukan malah mebuat dia semakin semangat malah membuat dia semakin malas untuk belajar dan mempersiapkan Ujian yang akan dia hadapi nanti.
“bagaimana persiapan Ujiannya nak? Apa kamu sudah menguasai materi ? kapan ada tryout lagi? Ibu harap kamu mendapatkan hasil yang baik dalam ujian nak, karena ibu ingin kamu menjadi anak yang sukses, jika nilai ujianmu jelek akan jadi apa kamu nanti? Ibu harap kamu mengeti semua itu demi kebaikan dan masa depan kamu nak, jadi belajarlah yang rajin”

”masih sama seperti biasa bu, aku ga tau kapan ada tryout lagi mungkin bulan depan, ya ibu doakan saja agar aku mendapatkan hasil yang memuaskan dalam ujian dan aku dapat membahagiakan ibu”
Reva pergi meninggalkan ibunya yang duduk di ruang keluarga dan pergi ke kamar, lalu menguncinya rapat-rapat. Dia merenung apa yang terjadi dalam sistem pendidikan di Indonesia? Kenpa harus ada ujian?  Kenapa sekolah 3 tahun harus di tentukan hanya 4 hari?. Semua pertanyaan itu selalu membebani pikirannya. Bukankah sistem seperti itu hanya membuat mental anak-anak jatuh? Mereka akan melakukan hal apapun untuk mencapai hasil yang memuaskan yang katanya demi mencapai masa depan yang baik. Sungguh sistem yang sangat tidak efektif. Negra-negara maju tidak menganakan Ujian Nasional untuk para siswanya tapi malah menjadi Negara yang maju. Harusnya Indonesia belajar bagaimana caranya untuk mempelajari sistim seperti itu. Bukan hanya study banding yang hanya membuang-mbuang uang rakyat. Reva berfikir lama sampai-sampai dia tertidur.
***
Bel masuk berbunyi, pelajaran pun dimulai, pelajaran pertama adalah biologi, anak-anak sibuk membaca buku yang tebalnya melebihi al Qur’an terjemahan. Didalam buku itu hanya terdapat soal-soal tanpa ada materi sedikitpun. Reva melihat ke sekeliling kelas, melihat teman-temannya dan kembali fokus pada buku yang tadi dia baca. Sejurus kemudian bapak guru datang.
“kemarin sampai mana kita?” sambil membuka mbuka buku soal yang sama seperti anak-anak
“halaman 123, nomer 13 pak” jawab anak-anak serempak
Tapi tiba-tiba reva mengancungkan tangannya, seperti ada yang akan dia sampaikan. Hal itu otomatis membuat perhatian anak-anak beralih ke reva.
“maaf pak, apa tidak sebaiknya bapak mengajarkan materi yang sudah tertera pada SKL? Jika kita terus latihan mengerjakan soal maka kami akan terbiasa mengerjakan soal yang jenisnya seperti itu, bagaimana nanti jika kami dihadapkan dan menemukan jenis soal yang berbeda dengan soal yang bapak berikan pada kami? Sedangkan kami tidak mempunyai referensi  dan pegangan untuk mengerjakan soal tersebut?”
“ saya sudah berpengalaman mengajar selama lebih dari 10 tahun, saya juga sudah menjadi guru biologi kelas 12 selama 5 tahun, jadi saya mengerti apa yang harus saya berikan pada kalian dan mana yang tidak. Jadi kamu sebagai murid menurut saja apa yang guru berikan, pasti hasilnya memuaskan.”
Setelah mendengar itu reva hanya bisa terdiam, teman-temannya juga kembali meperhatikan guru yang mulai menjelaskan di depan. Dengan terpaksa reva hanya mengikuti yang tadi bapak guru katakana dia mulai mengerjakan soal-soal dan memperhatikan sedikit penjelasan dari gurunya.
Ketika Jam istirahat dia memilih untuk pergi ke ruang BK, Untuk konsultasi tentang apa yang sedang dia dan teman-teman rasakan. Sesampainya di BK ada salah seorang guru yang cantik namanya Ibu farkhah, dia adalah guru BK faforit reva karena setiap ada masalah pasti beliau bisa memberikan solusi yang baik, dan hari inipun dia berharap akan mendapatkan solusi dan mendapat keyakinan dalam menempuh ujian.
“selamat siang ibu, boleh saya minta waktu ibu sebentar? Ada yang ingin saya diskusikan”
“iya, boleh rev, ada apa? Apa yang kamu mau sampaikan? Masalah Ujian?”
“ iya masalah Ujian, sepertinya ibu sudah terbiasa mendengar keluh kesah teman-teman saya yang akan menhadapi ujian”
“itu adalah hal yang saya hadapi setiap taun nak, setiap taun anak-anak saya mengeluh akan beban yang sangat berat untuk menghadapi Ujian, dari mereka belum siap materi, mental, atau bahkan belum siap jika mereka gagal dalam ujian”
Reva hanya terdiam, dia bingung mau memulai dari mana, sankin banyaknya pertayaan di hatinya yang ingin dia sampaikan pada guru favoritnya tersebut.
“sebenarnya Ujian Nasional bukan momok yang menakutkan, jika dari jauh-jauh hari kita mempersiapkan, belajar apa yang telah diajarkan, berdoa agar bisa mendapatkan ketenangan jiwa dan yang terpenting adalah berusaha. Insyaalloh sukses akan kita dapatkan.”
“iya bu saya tau, tapi tidakah keterlaluan jika kami sekolah selama 3 tahun hanya di tentukan dalam waktu 4 hari? Kami juga di tuntut untuk mendapakan nilai yang baik, demi untuk bersaing masuk PTN yang bagus? Itu semua membebani pikiran kami. Apalagi jika kami tidak lulus, rasa malu dan kecewa yang teramat dalam pasti kami rasakan”
“itu semua peraturan dari pusat, ibu tidak bisa menjawab pertanyaanmu reva. Lebih baik sekarang kamu fokus untuk menghadapi ujian, belajar  yang tekun tidak usah memikirkan apa yang tidak seharusnya kamu pikirkan. Karena banyak yang harus kamu lewati sekarang ini.”
Akirnya reva pergi meninggalkan Ibu Farkhah, harapanya untuk memperoleh penjelasan dan ketenangan musnah sudah. Akirnya reva memutuskan untuk berhenti memikirkan tentang polemik ujian nasional yang selama ini menganggu pikirannya.
***
Bulan demi bulan  berlalu, sekarang ujian nasional tinggal menghitung hari. Anak-anak kelas 12 disekolah reva semakin kalang kabut. Mereka sibuk memfotocopy soal-soal, sholat sunnah, mohon maaf pada adik-adik kelas. Sungguh terlihat memprihatinkan wajah-wajah calon penurus bangsa ini. Reva juga melakukan hal yang sama seperti teman-temannya, dia sibuk kesana kemari, membaca buku ini dan itu, dan konsultasi pada guru-guru mata pelajaran yang akan diujikan. Tiba- tiba ketika reva sedang duduk dan membaca buku, ada seseorang yang menghampirinya.
“ngapain belajar? Aku punya kunci jawaban soal Ujian Nasional. Kamu cuman perlu banyar 100 ribu buat 4 mata pelajaran. Dijamin tok cer deh” sapanya dengan muka yang berseri-seri tak ada beban.
“kunci jawaban? Emang kamu dapet dari mana? Terus bagaimana kamu bisa yakin itu adalah kunci yang bener? Tanya reva tanpa mengalihkan pandangan pada buku yang sedang dia baca
”aku dapet dari anak SMA sebelah, mereka katanya dapet dari gurunya langsung. Udah deh rev kamu mau kan nilai yang bagus? Dan masuk UNNES? Itu kan cita-cita kamu?”
Reva tersenyum dan menjawab “ iya itu cita-cita aku, tapi aku bakal mencapainya dengan usahaku sendiri. Oke fira, aku harap kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti aku” reva pergi meninggalkan fira yang masih termengung dengan kata-kata reva.
Reva berjalan menelusuri koridor sekolah tatapannya kosong, dalam hatinya berkata memang ada yang salah dengan sistem pendidikan yang menggunakan Ujian sebagai penentu dan penilaian akhir siswa mampu ataupun tidak. Tidak sengaja dia bertemu wiwin sahabat karibnya yang sudah di bilang seperti saudara sendiri.
“kamu juga mau membeli kunci jawaban itu?” Tanya reva tiba-tiba yang membuat wiwin tersentak kaget.
“iya aku terpaksa melakukannya, aku belum sepenuhnya mengetahui materi, ibu dan ayahku juga mendukungku untuk membeli kunci itu, mereka takut jika aku tidak lulus padahal aku udah sekolah 3 tahun.”
Jawaban itu membuat reva sesak nafas, dia bingung harus berkomentar apa lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan sahabatnya tersebut. Dia berfikir untuk apa dia memikirkan hal yang bahkan orang lain tidak memikirkan atau bahkan tidak mau tau. Reva memutuskan untuk bertawakal dan berdoa pada Allah agar mendapatkan ketenangan jiwa.
***
Waktupun berlalu, kini ujian yang ditunggu-tunggu datang juga. Semua siswa kelas 12 sudah bersiap-siap untuk memasuki ruangan tempat mereka akan melaksanakan ujian. Reva juga sudah datang dan sudah mempersiapkan hal apa saja yang harus di bawa saat ujian. Bel berbunyi semua siswa memasuki ruangan, sebelum masuk ruangan mereka harus di priksa satu persatu apakah mereka membawa alat bantu untuk mengerjakan soal ataupun tidak.
“ bismillahirohmannirohim” kata reva lirih
“ selamat berpusing-pusing ria reva” kata fira dengan wajah sinis, dan penuh arti
Reva hanya menatapnya dengan tatapan penuh keprihatinan.
Saat pembagian soal dan lembar jawab reva kaget melihat kertas lembar jawab yang sangat tipis seperti kertas pembungkus nasi, dalam hatinya berkata “ bagaimana jika saya salah dalam melingkari jawaban, lalu saya menghapus jawaban saya? Apakah kertas ini akan sobek?”
Ketika mengerjakan reva sangat tidak nyaman melihat polah para teman-temannya, mereka sibuk membuka selembar kertas yang mungkin isinya adalah kunci jawaban, bukankah tadi mereka sudah di periksa satu-satu? Memang kecerdasan guru di banding siswa dalam masalah contek mencontek itu lebih cerdas siswanya. Melihat semua itu reva hanya menghela nafas dan berdoa agar dia di beri ketenangan dan kemudahan saat mengerjakan.
“bagaimana nak, apakah soalnya sulit? Kenapa kamu hanya terdiam? Lihat yang lain sedang mengerjakan” sapa salah seorang pengawas dengan ramah pada reva
“tidak ibu, saya cuman sedang berfikir dan berdoa pada tuhan saya agar saya di beri kemudahan, setiap anak berbeda –beda kan dalam cara mereka mengerjakan soal?”
Pengawas tersebut hanya tersenyum dan meninggalkan reva yang juga tersenyum menatapnya. Akhirnya reva kembali mengerjakan soal demi soal yang tercantum dalam lembar soal. Sesekali dia melihat teman-temannya yang sibuk menyalin kunci jawaban. Ada sedikit rasa iri dalam hati reva.
***
Akhirnya Ujian Nasional pun telah terlewatkan sekarang anak-anak sudah merasa sedikit agak lega, tak terkecuali reva. Reva mengambil kesimpulan dalam menempuh Ujian 50% anak-anak SMAnya menggunakan kunci jawaban yang di jual oleh fira. Dia pasrah saja jika hasil Ujiannya tidak nemuaskan toh dia mengerjakan semua murni dari pikirannya sendiri.
Benar saja ketika pengumuman hasil Ujian siswa-siswi di SMAnya di nyatakan lulus 100%, dengan nilai yang hasil memuaskan, bahkan fira mendapat nilai 100 untuk mata pelajaran Fisika, pelajaran yang di anggap paling sulit di bandingkan yang lain. Reva hanya tersenyum mengetahui itu, dia melirik nilai yang tertera pada amplop yang sedang di pegangnya dalam amplop itu berisi tulisan LULUS dengan nialai
Bahasa Indonesia        : 86,40             Fisika               : 5,00
Matematika                 : 5,50               Biologi            : 60,40
Kimia                          : 70,00             Bahasa inggris : 64,00
Reva berkata pada dirinya sendiri, tak apa mendapatkan hasil seperti ini, dengan jerih payah sendiri dari pada seperti dia (fira) tapi dengan hasil yang tidak halal. Dia tidak menyalahkan teman-temannya yang memakai kunci, dia menyadari bagaimana persaan meraka yang menjadi korban sistem yang sangat tidak efektif tersebut. Mereka hanya ingin mencapai nilai yang baik, agar dapat membanggakan orang tua, masuk ke PTN yang favorit, dan yang paling simple adalah sekedar LULUS dari SMA dan SMK.
Kini tiba saat pengumuman penerimaan SNMPTN, reva di terima masuk UNNES, sedangkan fira dan teman-teman lain yang memakai kunci jawaban harus menelan kekecewaan karena mereka tidak dapat masuk ke PTN yang mereka inginkan. Reva bisa tersenyum bangga karena hasil jerih payahnya tidak sia-sia. Alloh telah menunjukan kebesarannya.
Dari pengalamannya mengikuti ujian nasional, reva mengambil kesimpulan jika Ujian Nasional bukanlah menjadi tolak ukur yang sesungguhnya. Karena dalam pelaksanaan ujian banyak terjadi kecurangan dari mulai bocornya soal ujian, lembar jawab yang sama sekali tidak berkualitas dan ulah para oknum guru yang menjadikan ujian nasional sebagai ajang bisnis yang menggiurkan. Terlihat pemerintah tidak sungguh-sungguh mempersiapkan Ujian Nasional atau malah pemerintah belum mampu untuk mengadakan Ujian Nasional. Entahlah!


puisi feni



Nama               : FENI HERIYATNI
NIM                : 1102413011
Rombel            :1 (satu)
Makul              : Sistem Pendidikan Nasional

Tugas membuat puisi bertemakan ‘ masalah pendidikan ’.

Pendidikan dan Para Eksekutif

Gedung tak layak? Itulah tempat kami
Baju lusuh? Itu memang warna kami
Beribu tapak kami jalani tanpa alas kaki
Perut lapar tak ada receh untuk jajan.
Sedangkan disana, dibalik gedung-gedung kaca
Berderet tubuh-tubuh tegap berdasi, dan berjas rapi
Dengan perut buncit, berwajah sengit, dengan gaya selangit
Seperti pisau yang tajam dibawah dan tumpul diatas
Semarak  terbahak-bahak itulah cerminan UU-ku
Yang disyahkan para koruptor, dan diresmikan para pejabat
Inilah dunia laknatku, yang akan terbalas pada hukum akhirat.

Aku bingung, aku resah
Dimanakah letaknya salah
Sudah sekolah sudah kuliah
Keluar-keluar  malah jadi lintah

Rasakan ....
Rasakanlah pahitnya hidup ini
Kami yang ada disini
Cuma bisa jadi pemimpi
Bermimpi dengan sepuas hati
Namun bukan itu yang kuharapkan
Pendidikan yang murah yang ku harapkan
Pendidikan yang bisa merubah
Semua kezholiman menjadi keadilan

Indonesiaku ...
Tunggulah kami tuk jadi penerus bangsa yang sejati
Satu janji dan harapan kami, akan kami wujudkan
Harapan-harapan penerus bangsa indonesia
Harapan yang mulia, yang kan jadikan indonesia jaya.