Reva sedang
duduk di koridor sekolah, sambil membaca buku, tapi dia tidak sedang
benar-benar membaca, dia hanya membolak mbalik buku tersebut, tatapannya menerawang jauh. Reva adalah siswi kelas 12 di
salah satu SMA negeri di daerahnya, dia hidup dalam keluarga ya boleh di bilang
hancur karena ayah dan ibunya bercerai sejak dia kelas 2 SMP. Seperti anak-anak
kelas 12 pada umumnya dia sedang mempersiapkan
diri untuk menghadapi Ujian Nasional, sebuah moment dimana semua siswa
akan mengalami ketakutan dan akan
merasakan tekanan batin.
“kamu udah siap
buat ulangan fisika nani rev?” Tanya salah seorang sabatnya
“entahlah aku
merasa sudah bosan dengan materi ataupun
soal yang bapak guru berikan selama ini, apakah tidak ada cara lain yang
lebih efektif untuk kita bisa memahami materi?” jawabnya sambil menerawang
(ngalamun) raut mukannya seakan memperlihatkan bahwa dia memang benar-benar
bosan
“aku juga
merasakan hal yang sama seperti kamu,
mungkin bukan cuman aku dan kamu teman-teman yang lain mungkin juga merasakan
hal yang sama, tapi apa boleh buat ini lah yang harus kita hadapin rev, Ujian
Nasional”
Reva hanya
terdiam mendengar penjelasan sahabatnya itu, dia berfikir apa yang sahabatnya
katakana itu ada benarnya. Bukan hanya dia yang merasakan sebuah kecemasan,
kejenuhan, dan tekanan batin yang sangat luar biasa. Ternyata teman-temannya
juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan saat ini. Memang
tidak mudah mengubah pola pikir dari kelas 11 yang hanya memikirkan
senang-senang, nongkrong bareng, dan cuman hura-hura. Sekarang di hadapkan
dengan masalah yang boleh di bilang cukup serius yaitu Ujian Nasional. Semua
kebiasaan yang ada di kelas 10 dan kelas 11 harus berubah menjadi kebiasaan
dimana dituntut untuk belajar, memahami, dan menghafalkan materi yang sudah di
tetapkan dalam SKL.
***
Ketika dirumah dia
juga harus belajar dengan di awasi oleh ibunya. Semua alat komunikasi disita
selama reva menghadapi Ujian Nasional. Jam belajar sekarang juga di batasi dari
jam setengah 7 sampai jam 9 malam, bahkan dia harus bangun jam 4 pagi untuk melanjutkan belajar. Itu
semua membuat reva menjadi tambah tertekan, dan frustasi dia merasa bahwa dia
sangat tidak suka dengan keadaan seperti ini. tekanan-tekanan seperti itu bukan
malah mebuat dia semakin semangat malah membuat dia semakin malas untuk belajar
dan mempersiapkan Ujian yang akan dia hadapi nanti.
“bagaimana
persiapan Ujiannya nak? Apa kamu sudah menguasai materi ? kapan ada tryout
lagi? Ibu harap kamu mendapatkan hasil yang baik dalam ujian nak, karena ibu
ingin kamu menjadi anak yang sukses, jika nilai ujianmu jelek akan jadi apa
kamu nanti? Ibu harap kamu mengeti semua itu demi kebaikan dan masa depan kamu
nak, jadi belajarlah yang rajin”
”masih sama
seperti biasa bu, aku ga tau kapan ada tryout lagi mungkin bulan depan, ya ibu
doakan saja agar aku mendapatkan hasil yang memuaskan dalam ujian dan aku dapat
membahagiakan ibu”
Reva pergi
meninggalkan ibunya yang duduk di ruang keluarga dan pergi ke kamar, lalu menguncinya
rapat-rapat. Dia merenung apa yang terjadi dalam sistem pendidikan di
Indonesia? Kenpa harus ada ujian? Kenapa
sekolah 3 tahun harus di tentukan hanya 4 hari?. Semua pertanyaan itu selalu
membebani pikirannya. Bukankah sistem seperti itu hanya membuat mental
anak-anak jatuh? Mereka akan melakukan hal apapun untuk mencapai hasil yang
memuaskan yang katanya demi mencapai masa depan yang baik. Sungguh sistem yang
sangat tidak efektif. Negra-negara maju tidak menganakan Ujian Nasional untuk
para siswanya tapi malah menjadi Negara yang maju. Harusnya Indonesia belajar
bagaimana caranya untuk mempelajari sistim seperti itu. Bukan hanya study
banding yang hanya membuang-mbuang uang rakyat. Reva berfikir lama
sampai-sampai dia tertidur.
***
Bel masuk
berbunyi, pelajaran pun dimulai, pelajaran pertama adalah biologi, anak-anak
sibuk membaca buku yang tebalnya melebihi al Qur’an terjemahan. Didalam buku
itu hanya terdapat soal-soal tanpa ada materi sedikitpun. Reva melihat ke
sekeliling kelas, melihat teman-temannya dan kembali fokus pada buku yang tadi
dia baca. Sejurus kemudian bapak guru datang.
“kemarin sampai
mana kita?” sambil membuka mbuka buku soal yang sama seperti anak-anak
“halaman 123,
nomer 13 pak” jawab anak-anak serempak
Tapi tiba-tiba
reva mengancungkan tangannya, seperti ada yang akan dia sampaikan. Hal itu
otomatis membuat perhatian anak-anak beralih ke reva.
“maaf pak, apa
tidak sebaiknya bapak mengajarkan materi yang sudah tertera pada SKL? Jika kita
terus latihan mengerjakan soal maka kami akan terbiasa mengerjakan soal yang
jenisnya seperti itu, bagaimana nanti jika kami dihadapkan dan menemukan jenis
soal yang berbeda dengan soal yang bapak berikan pada kami? Sedangkan kami
tidak mempunyai referensi dan pegangan untuk
mengerjakan soal tersebut?”
“ saya sudah
berpengalaman mengajar selama lebih dari 10 tahun, saya juga sudah menjadi guru
biologi kelas 12 selama 5 tahun, jadi saya mengerti apa yang harus saya berikan
pada kalian dan mana yang tidak. Jadi kamu sebagai murid menurut saja apa yang
guru berikan, pasti hasilnya memuaskan.”
Setelah
mendengar itu reva hanya bisa terdiam, teman-temannya juga kembali meperhatikan
guru yang mulai menjelaskan di depan. Dengan terpaksa reva hanya mengikuti yang
tadi bapak guru katakana dia mulai mengerjakan soal-soal dan memperhatikan
sedikit penjelasan dari gurunya.
Ketika Jam
istirahat dia memilih untuk pergi ke ruang BK, Untuk konsultasi tentang apa
yang sedang dia dan teman-teman rasakan. Sesampainya di BK ada salah seorang
guru yang cantik namanya Ibu farkhah, dia adalah guru BK faforit reva karena
setiap ada masalah pasti beliau bisa memberikan solusi yang baik, dan hari
inipun dia berharap akan mendapatkan solusi dan mendapat keyakinan dalam
menempuh ujian.
“selamat siang
ibu, boleh saya minta waktu ibu sebentar? Ada yang ingin saya diskusikan”
“iya, boleh rev,
ada apa? Apa yang kamu mau sampaikan? Masalah Ujian?”
“ iya masalah
Ujian, sepertinya ibu sudah terbiasa mendengar keluh kesah teman-teman saya
yang akan menhadapi ujian”
“itu adalah hal
yang saya hadapi setiap taun nak, setiap taun anak-anak saya mengeluh akan
beban yang sangat berat untuk menghadapi Ujian, dari mereka belum siap materi,
mental, atau bahkan belum siap jika mereka gagal dalam ujian”
Reva hanya
terdiam, dia bingung mau memulai dari mana, sankin banyaknya pertayaan di
hatinya yang ingin dia sampaikan pada guru favoritnya tersebut.
“sebenarnya
Ujian Nasional bukan momok yang menakutkan, jika dari jauh-jauh hari kita
mempersiapkan, belajar apa yang telah diajarkan, berdoa agar bisa mendapatkan
ketenangan jiwa dan yang terpenting adalah berusaha. Insyaalloh sukses akan
kita dapatkan.”
“iya bu saya
tau, tapi tidakah keterlaluan jika kami sekolah selama 3 tahun hanya di
tentukan dalam waktu 4 hari? Kami juga di tuntut untuk mendapakan nilai yang
baik, demi untuk bersaing masuk PTN yang bagus? Itu semua membebani pikiran
kami. Apalagi jika kami tidak lulus, rasa malu dan kecewa yang teramat dalam
pasti kami rasakan”
“itu semua
peraturan dari pusat, ibu tidak bisa menjawab pertanyaanmu reva. Lebih baik
sekarang kamu fokus untuk menghadapi ujian, belajar yang tekun tidak usah memikirkan apa yang
tidak seharusnya kamu pikirkan. Karena banyak yang harus kamu lewati sekarang ini.”
Akirnya reva
pergi meninggalkan Ibu Farkhah, harapanya untuk memperoleh penjelasan dan
ketenangan musnah sudah. Akirnya reva memutuskan untuk berhenti memikirkan
tentang polemik ujian nasional yang selama ini menganggu pikirannya.
***
Bulan demi bulan berlalu, sekarang ujian nasional tinggal
menghitung hari. Anak-anak kelas 12 disekolah reva semakin kalang kabut. Mereka
sibuk memfotocopy soal-soal, sholat sunnah, mohon maaf pada adik-adik kelas.
Sungguh terlihat memprihatinkan wajah-wajah calon penurus bangsa ini. Reva juga
melakukan hal yang sama seperti teman-temannya, dia sibuk kesana kemari,
membaca buku ini dan itu, dan konsultasi pada guru-guru mata pelajaran yang
akan diujikan. Tiba- tiba ketika reva sedang duduk dan membaca buku, ada
seseorang yang menghampirinya.
“ngapain
belajar? Aku punya kunci jawaban soal Ujian Nasional. Kamu cuman perlu banyar
100 ribu buat 4 mata pelajaran. Dijamin tok cer deh” sapanya dengan muka yang
berseri-seri tak ada beban.
“kunci jawaban?
Emang kamu dapet dari mana? Terus bagaimana kamu bisa yakin itu adalah kunci
yang bener? Tanya reva tanpa mengalihkan pandangan pada buku yang sedang dia
baca
”aku dapet dari
anak SMA sebelah, mereka katanya dapet dari gurunya langsung. Udah deh rev kamu
mau kan nilai yang bagus? Dan masuk UNNES? Itu kan cita-cita kamu?”
Reva tersenyum
dan menjawab “ iya itu cita-cita aku, tapi aku bakal mencapainya dengan usahaku
sendiri. Oke fira, aku harap kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti
aku” reva pergi meninggalkan fira yang masih termengung dengan kata-kata reva.
Reva berjalan
menelusuri koridor sekolah tatapannya kosong, dalam hatinya berkata memang ada
yang salah dengan sistem pendidikan yang menggunakan Ujian sebagai penentu dan
penilaian akhir siswa mampu ataupun tidak. Tidak sengaja dia bertemu wiwin
sahabat karibnya yang sudah di bilang seperti saudara sendiri.
“kamu juga mau
membeli kunci jawaban itu?” Tanya reva tiba-tiba yang membuat wiwin tersentak
kaget.
“iya aku
terpaksa melakukannya, aku belum sepenuhnya mengetahui materi, ibu dan ayahku
juga mendukungku untuk membeli kunci itu, mereka takut jika aku tidak lulus
padahal aku udah sekolah 3 tahun.”
Jawaban itu
membuat reva sesak nafas, dia bingung harus berkomentar apa lagi. Akhirnya dia
memutuskan untuk pergi meninggalkan sahabatnya tersebut. Dia berfikir untuk apa
dia memikirkan hal yang bahkan orang lain tidak memikirkan atau bahkan tidak
mau tau. Reva memutuskan untuk bertawakal dan berdoa pada Allah agar
mendapatkan ketenangan jiwa.
***
Waktupun
berlalu, kini ujian yang ditunggu-tunggu datang juga. Semua siswa kelas 12
sudah bersiap-siap untuk memasuki ruangan tempat mereka akan melaksanakan
ujian. Reva juga sudah datang dan sudah mempersiapkan hal apa saja yang harus
di bawa saat ujian. Bel berbunyi semua siswa memasuki ruangan, sebelum masuk
ruangan mereka harus di priksa satu persatu apakah mereka membawa alat bantu
untuk mengerjakan soal ataupun tidak.
“
bismillahirohmannirohim” kata reva lirih
“ selamat
berpusing-pusing ria reva” kata fira dengan wajah sinis, dan penuh arti
Reva hanya
menatapnya dengan tatapan penuh keprihatinan.
Saat pembagian
soal dan lembar jawab reva kaget melihat kertas lembar jawab yang sangat tipis
seperti kertas pembungkus nasi, dalam hatinya berkata “ bagaimana jika saya
salah dalam melingkari jawaban, lalu saya menghapus jawaban saya? Apakah kertas
ini akan sobek?”
Ketika
mengerjakan reva sangat tidak nyaman melihat polah para teman-temannya, mereka
sibuk membuka selembar kertas yang mungkin isinya adalah kunci jawaban,
bukankah tadi mereka sudah di periksa satu-satu? Memang kecerdasan guru di
banding siswa dalam masalah contek mencontek itu lebih cerdas siswanya. Melihat
semua itu reva hanya menghela nafas dan berdoa agar dia di beri ketenangan dan
kemudahan saat mengerjakan.
“bagaimana nak,
apakah soalnya sulit? Kenapa kamu hanya terdiam? Lihat yang lain sedang
mengerjakan” sapa salah seorang pengawas dengan ramah pada reva
“tidak ibu, saya
cuman sedang berfikir dan berdoa pada tuhan saya agar saya di beri kemudahan,
setiap anak berbeda –beda kan dalam cara mereka mengerjakan soal?”
Pengawas
tersebut hanya tersenyum dan meninggalkan reva yang juga tersenyum menatapnya.
Akhirnya reva kembali mengerjakan soal demi soal yang tercantum dalam lembar
soal. Sesekali dia melihat teman-temannya yang sibuk menyalin kunci jawaban.
Ada sedikit rasa iri dalam hati reva.
***
Akhirnya Ujian
Nasional pun telah terlewatkan sekarang anak-anak sudah merasa sedikit agak
lega, tak terkecuali reva. Reva mengambil kesimpulan dalam menempuh Ujian 50%
anak-anak SMAnya menggunakan kunci jawaban yang di jual oleh fira. Dia pasrah
saja jika hasil Ujiannya tidak nemuaskan toh dia mengerjakan semua murni dari
pikirannya sendiri.
Benar saja
ketika pengumuman hasil Ujian siswa-siswi di SMAnya di nyatakan lulus 100%, dengan
nilai yang hasil memuaskan, bahkan fira mendapat nilai 100 untuk mata pelajaran
Fisika, pelajaran yang di anggap paling sulit di bandingkan yang lain. Reva
hanya tersenyum mengetahui itu, dia melirik nilai yang tertera pada amplop yang
sedang di pegangnya dalam amplop itu berisi tulisan LULUS dengan nialai
Bahasa Indonesia
: 86,40 Fisika :
5,00
Matematika : 5,50 Biologi :
60,40
Kimia : 70,00 Bahasa inggris : 64,00
Reva berkata
pada dirinya sendiri, tak apa mendapatkan hasil seperti ini, dengan jerih payah
sendiri dari pada seperti dia (fira) tapi dengan hasil yang tidak halal. Dia
tidak menyalahkan teman-temannya yang memakai kunci, dia menyadari bagaimana
persaan meraka yang menjadi korban sistem yang sangat tidak efektif tersebut.
Mereka hanya ingin mencapai nilai yang baik, agar dapat membanggakan orang tua,
masuk ke PTN yang favorit, dan yang paling simple adalah sekedar LULUS dari SMA
dan SMK.
Kini tiba saat
pengumuman penerimaan SNMPTN, reva di terima masuk UNNES, sedangkan fira dan
teman-teman lain yang memakai kunci jawaban harus menelan kekecewaan karena
mereka tidak dapat masuk ke PTN yang mereka inginkan. Reva bisa tersenyum
bangga karena hasil jerih payahnya tidak sia-sia. Alloh telah menunjukan kebesarannya.
Dari
pengalamannya mengikuti ujian nasional, reva mengambil kesimpulan jika Ujian
Nasional bukanlah menjadi tolak ukur yang sesungguhnya. Karena dalam
pelaksanaan ujian banyak terjadi kecurangan dari mulai bocornya soal ujian,
lembar jawab yang sama sekali tidak berkualitas dan ulah para oknum guru yang
menjadikan ujian nasional sebagai ajang bisnis yang menggiurkan. Terlihat
pemerintah tidak sungguh-sungguh mempersiapkan Ujian Nasional atau malah
pemerintah belum mampu untuk mengadakan Ujian Nasional. Entahlah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar