Nama : Muhamad Yahya
NIM : 1102413018
Senandung
Pinggiran Jakarta
Pagi
ini hujan kembali turun, membasahi kembali tanah-tanah merah kecoklatan nan
tandus di kota yang sudah tenar dengan sebutan kota metropolitan ini. Jakarta,
kota yang menjadi ibukota dari Indonesia ini menyimpang seribu satu kisah pilu
seorang wanita setengah baya bernama Pramesti bersama kedua putra laki-lakinya,
Giri dan Yoga. Pagi ini wanita berperawakan tinggi kurus dengan kulit sawo
matang ini kembali terdiam di teras rumah sederhana peninggalan almarhum kedua
orang tuanya yang bisa dibilang tidak terlalu layak untuk sekedar di tinggali,
hanya sebagai peneduh di saat teriknya surya membelai hangat rambut kusamnya
yang sudah mulai memutih dan pelindung saat kejamnya curahan air langit
menghujam seluruh badan kurusnya.
“Hemm”.
Sekali
lagi Pramesti mendengus, bukan mendengus kesal ataupun sebuah dengusan jengah
atas semua yang sudah ia alami selama 48 tahun ia lahir ke dunia sandiwara ini.
Melainkan sebuah dengusan kepasrahan atas getirnya hidup seorang janda beranak
dua yang hidup tanpa ada saudara. Matanya menerawang jauh di antara guyuran
titik-titik cair dari langit yang kian melebat mengaburkan pandangannya yang
mulai tak jelas. Menatap nanar tiap butiran yang jatuh tanpa ampun pada
genangan-genangan coklat di depan rumahnya. Pramesti tak sedang melamun, namun
pandangannya kosong. Raganya dan pikirannya sedang tak benar-benar dalam satu
lokasi. Pikirannya terbang jauh pada semua masalah yang seakan terus membelit
kuat pada nadi kehidupannya.
Kali
ini ia lempar pandangannya pada sebuah kertas kuning bertuliskan jejeran
angka-angka yang menjadi penyebab utama beban pikirannya. Sekumpulan jejeran
angka yang telah ia jumlahkan kini kembali menyita pandangannya.
“Tujuh
ratus dua puluh lima ribu.” Pramesti memijat pelipisnya yang sendari tadi
berdenyut. Dari mana aku mendapatkan uang
sebanyak itu. Di sampingnya terpampang sebuah tulisan berhuruf tebal yang
cukup jelas untuk dibaca mata tua Pramesti, Rincian uang seragam.
Baru
lusa kemarin Pramesti datang ke sekolah baru Yoga, di sana ia sempat beradu
dengan kepala sekolah setempat. Ia menilai nominal tersebut sangat besar. Hanya
untuk untuk lima setel kain seragam, yakni dua OSIS, dua batik, dan satu
Pramuka, dia harus mengeluarkan dana Rp 725.000. Tentu itu bukan nominal yang
kecil untuk sebuah keluarga yang hanya bertumpu pada seorang wanita tua yang
sudah mulai renta sebagai tulang punggungnya. Pramesti sadar, ia masih memiliki
satu tanggungan anak yang juga harus ia biayai sekolahnya, anak sulungnya yang
juga baru menginjak masa sekolah di Sekolah Menengah Pertama.
Dengan
menunjukkan surat-surat keputusan dinas setempat, kepala sekolah menjelaskan
secara detail dasar keputusan sekolah menetapkan harga untuk baju seragam bagi
murid-murid baru, sekaigus surat yang menyatakan bahwa setiap siswa baru wajib
membeli kalin dari sekolah dengan alasan keseragaman antar siswa di sekolah
tersebut. Keputusannya tidak bisa di ganggu, tetap tidak ada pengurangan biaya
seragam bagi Yoga. Pramesti diam, tidak ada jalan lain, ini peraturan sekolah
baru Yoga.
“Bu.”
Sebuah
suara berhasil menyeret kembali Pramesti ke dunia nyatanya. Ia menoleh, seorang
sosok jangkung berusia 15 tahun tengah mengamatinya dari balik pintu rumahnya.
Yoga, putra sulungnya.
“Yoga,
sejak kapan kau ada disitu nak ?” tanya Pramesti tergagap. Segera ia menarik
kertas kuning yang sekarang sudah berhasil ia sembunyikan di balik punggung
tuanya. Namun sepertinya sia-sia, mata sayu Yoga sudah terlanjur melihat kertas
yang sendari tadi menyita perhatian orang tua tunggalnya itu sekarang.
“Aku
bisa melanjutkannya tahun depan bu, jangan terlalu dipikirkan.”
Seutas
senyum kini tersungging dari bibir munggil Yoga. Sebuah senyum yang cukup bisa
diartikan maksudnya. Antara senyum keputus asaan dan senyum kegetiran.
“Apa
yang kau bicarakan ? Anak ibu tidak boleh berhenti sampai disini.” Jawab
Pramesti seraya mengusap lembut rambut putra tertuanya itu.
“Aku
tidak apa-apa bu. Toh Giri lebih membutuhkan uang itu sekarang , aku masih bisa
mengulangi tahun depan. Tapi Giri ? Dia lebih membutuhkan uang itu.”
“Lagi
pula, Yoga ingin berhenti dulu satu tahun dari sekolah. Yoga ingin membantu
ibu, pekerjaan ibu terlalu banyak.Yoga tidak ingin ibu terlalu lelah bekerja,
Yoga ingin bekerja. Yoga sudah mendapat pekerjaan, minggu depan toko pak Amir
yang ada di ujung gang akan dibuka, Yoga sudah mendaftarkan diri menjadi
karyawan disana. Minggu depan Yoga akan mulai bekerja.” Tambah Yoga lagi.
Mulut
Pramesti terkatup, seakan tak ingin ia buka, ia tatap dalam-dalam wajah anak
sulungnya itu. Tampak lebih dewasa. Ya, Pramesti sadar. Anaknya kini sudah
beranjak dewasa, dia sudah mulai berfikir tentang hidup. Wanita yang biasa di
panggil Asti itu tersenyum, diam-diam ia bangga.
“Ibu
bisa membiayai kalian berdua nak. Ibu sudah berjanji pada almarhum ayahmu.”
Mata
Pramesti memanas, ia tau akan mengalir suatu benda bening dari kedua bola
matanya. Tapi ia tak bisa melakukannya, ia harus mengajarkan sebuah ketegaran
hidup pada anak-anaknya.
“Masih
ada waktu untuk melunasi semua tanggungan seragam sekolahmu. Ibu masih bisa
bekerja, kau dan adikmu tidak boleh berhenti sekolah.”
“Niatku
sudah bulat bu.” Jawab Yoga mantab.
“Terimakasih
sudah ada niat untuk membantu ibu, tapi impianmu untuk terus bersekolah tidak
boleh berhenti hanya karena 5 potong kain berukuran 2 meter yang harusnya akan
segera kau pakai bulan depan. Kau dan adikmu harus menjadi “orang”. Kalian yang
nantinya kelak akan membanggakan ibu, hanya kalian. Hanya anak-anak ibu. Jadi
sudah, kau menurut saja, kalian akan terus bersekolah. Ini urusan ibu, tugas
kalian hanya belajar.”
Kembali,
dua ujung bibir Pramesti sedikit tertarik keatas demi menguatkan kata-kata yang
baru ia keluarkan dari bibir pucatnya.
“Tapi
bu, aku bisa membantu ibu.” Tatap Yoga yakin.
Pramesti
menggelengkan kepalanya lembut. Ia bersikeras memberikan yang terbaik untuk
kedua putranya. Pendidikan kedua putranya lebih penting di atas segalanya,
walaupun kenyataannya biaya pendidikan yang tak bisa dibilang ringan terus saja
menggerogoti hidup Pramesti dan kedua anaknya serta ribuan bahkan jutaan nyawa
yang membutuhkan pendidikan dari keluarga dengan penghasilan jauh dibawah
rata-rata di luar sana. Pramesti tau, belakangan ini pemerintah sering
menggencarkan program Biaya Operasional Sekolah. Pramesti sendiri bersyukur,
bantuan itu sudah sedikit cukup dapat meringankan beban pikirannya. Walaupun di
baliknya masih ada sekumpulan biaya yang harus ia keluarkan demi kelancaran
pendidikan kedua anaknya, termasuk biaya seragam sekolah.
Pramesti
membuang lagi pandangannya jauh keluar. Hujan masih dengan setia mengguyur
tanah tandus kampung halamannya ini. Langit abu-abu yang menggantung bebas di
atas atap rumahnyapun seakan menggambarkan segerombol mendung yang juga
menjejal di pikiran Pramesti. Hidup ini
keras, dan aku akan menjadi lebih keras darinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar