Senin, 25 November 2013

Nama   : Muhamad Yahya
NIM    : 1102413018

Senandung Pinggiran Jakarta
            Pagi ini hujan kembali turun, membasahi kembali tanah-tanah merah kecoklatan nan tandus di kota yang sudah tenar dengan sebutan kota metropolitan ini. Jakarta, kota yang menjadi ibukota dari Indonesia ini menyimpang seribu satu kisah pilu seorang wanita setengah baya bernama Pramesti bersama kedua putra laki-lakinya, Giri dan Yoga. Pagi ini wanita berperawakan tinggi kurus dengan kulit sawo matang ini kembali terdiam di teras rumah sederhana peninggalan almarhum kedua orang tuanya yang bisa dibilang tidak terlalu layak untuk sekedar di tinggali, hanya sebagai peneduh di saat teriknya surya membelai hangat rambut kusamnya yang sudah mulai memutih dan pelindung saat kejamnya curahan air langit menghujam seluruh badan kurusnya.
            “Hemm”.
            Sekali lagi Pramesti mendengus, bukan mendengus kesal ataupun sebuah dengusan jengah atas semua yang sudah ia alami selama 48 tahun ia lahir ke dunia sandiwara ini. Melainkan sebuah dengusan kepasrahan atas getirnya hidup seorang janda beranak dua yang hidup tanpa ada saudara. Matanya menerawang jauh di antara guyuran titik-titik cair dari langit yang kian melebat mengaburkan pandangannya yang mulai tak jelas. Menatap nanar tiap butiran yang jatuh tanpa ampun pada genangan-genangan coklat di depan rumahnya. Pramesti tak sedang melamun, namun pandangannya kosong. Raganya dan pikirannya sedang tak benar-benar dalam satu lokasi. Pikirannya terbang jauh pada semua masalah yang seakan terus membelit kuat pada nadi kehidupannya.
            Kali ini ia lempar pandangannya pada sebuah kertas kuning bertuliskan jejeran angka-angka yang menjadi penyebab utama beban pikirannya. Sekumpulan jejeran angka yang telah ia jumlahkan kini kembali menyita pandangannya.
            “Tujuh ratus dua puluh lima ribu.” Pramesti memijat pelipisnya yang sendari tadi berdenyut. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu. Di sampingnya terpampang sebuah tulisan berhuruf tebal yang cukup jelas untuk dibaca mata tua Pramesti, Rincian uang seragam.
            Baru lusa kemarin Pramesti datang ke sekolah baru Yoga, di sana ia sempat beradu dengan kepala sekolah setempat. Ia menilai nominal tersebut sangat besar. Hanya untuk untuk lima setel kain seragam, yakni dua OSIS, dua batik, dan satu Pramuka, dia harus mengeluarkan dana Rp 725.000. Tentu itu bukan nominal yang kecil untuk sebuah keluarga yang hanya bertumpu pada seorang wanita tua yang sudah mulai renta sebagai tulang punggungnya. Pramesti sadar, ia masih memiliki satu tanggungan anak yang juga harus ia biayai sekolahnya, anak sulungnya yang juga baru menginjak masa sekolah di Sekolah Menengah Pertama.
            Dengan menunjukkan surat-surat keputusan dinas setempat, kepala sekolah menjelaskan secara detail dasar keputusan sekolah menetapkan harga untuk baju seragam bagi murid-murid baru, sekaigus surat yang menyatakan bahwa setiap siswa baru wajib membeli kalin dari sekolah dengan alasan keseragaman antar siswa di sekolah tersebut. Keputusannya tidak bisa di ganggu, tetap tidak ada pengurangan biaya seragam bagi Yoga. Pramesti diam, tidak ada jalan lain, ini peraturan sekolah baru Yoga.
            “Bu.”
            Sebuah suara berhasil menyeret kembali Pramesti ke dunia nyatanya. Ia menoleh, seorang sosok jangkung berusia 15 tahun tengah mengamatinya dari balik pintu rumahnya. Yoga, putra sulungnya.
            “Yoga, sejak kapan kau ada disitu nak ?” tanya Pramesti tergagap. Segera ia menarik kertas kuning yang sekarang sudah berhasil ia sembunyikan di balik punggung tuanya. Namun sepertinya sia-sia, mata sayu Yoga sudah terlanjur melihat kertas yang sendari tadi menyita perhatian orang tua tunggalnya itu sekarang.
            “Aku bisa melanjutkannya tahun depan bu, jangan terlalu dipikirkan.”
            Seutas senyum kini tersungging dari bibir munggil Yoga. Sebuah senyum yang cukup bisa diartikan maksudnya. Antara senyum keputus asaan dan senyum kegetiran.
            “Apa yang kau bicarakan ? Anak ibu tidak boleh berhenti sampai disini.” Jawab Pramesti seraya mengusap lembut rambut putra tertuanya itu.
            “Aku tidak apa-apa bu. Toh Giri lebih membutuhkan uang itu sekarang , aku masih bisa mengulangi tahun depan. Tapi Giri ? Dia lebih membutuhkan uang itu.”
            “Lagi pula, Yoga ingin berhenti dulu satu tahun dari sekolah. Yoga ingin membantu ibu, pekerjaan ibu terlalu banyak.Yoga tidak ingin ibu terlalu lelah bekerja, Yoga ingin bekerja. Yoga sudah mendapat pekerjaan, minggu depan toko pak Amir yang ada di ujung gang akan dibuka, Yoga sudah mendaftarkan diri menjadi karyawan disana. Minggu depan Yoga akan mulai bekerja.” Tambah Yoga lagi.
            Mulut Pramesti terkatup, seakan tak ingin ia buka, ia tatap dalam-dalam wajah anak sulungnya itu. Tampak lebih dewasa. Ya, Pramesti sadar. Anaknya kini sudah beranjak dewasa, dia sudah mulai berfikir tentang hidup. Wanita yang biasa di panggil Asti itu tersenyum, diam-diam ia bangga.
            “Ibu bisa membiayai kalian berdua nak. Ibu sudah berjanji pada almarhum ayahmu.”
            Mata Pramesti memanas, ia tau akan mengalir suatu benda bening dari kedua bola matanya. Tapi ia tak bisa melakukannya, ia harus mengajarkan sebuah ketegaran hidup pada anak-anaknya.
            “Masih ada waktu untuk melunasi semua tanggungan seragam sekolahmu. Ibu masih bisa bekerja, kau dan adikmu tidak boleh berhenti sekolah.”
            “Niatku sudah bulat bu.” Jawab Yoga mantab.
            “Terimakasih sudah ada niat untuk membantu ibu, tapi impianmu untuk terus bersekolah tidak boleh berhenti hanya karena 5 potong kain berukuran 2 meter yang harusnya akan segera kau pakai bulan depan. Kau dan adikmu harus menjadi “orang”. Kalian yang nantinya kelak akan membanggakan ibu, hanya kalian. Hanya anak-anak ibu. Jadi sudah, kau menurut saja, kalian akan terus bersekolah. Ini urusan ibu, tugas kalian hanya belajar.”
            Kembali, dua ujung bibir Pramesti sedikit tertarik keatas demi menguatkan kata-kata yang baru ia keluarkan dari bibir pucatnya.
            “Tapi bu, aku bisa membantu ibu.” Tatap Yoga yakin.
            Pramesti menggelengkan kepalanya lembut. Ia bersikeras memberikan yang terbaik untuk kedua putranya. Pendidikan kedua putranya lebih penting di atas segalanya, walaupun kenyataannya biaya pendidikan yang tak bisa dibilang ringan terus saja menggerogoti hidup Pramesti dan kedua anaknya serta ribuan bahkan jutaan nyawa yang membutuhkan pendidikan dari keluarga dengan penghasilan jauh dibawah rata-rata di luar sana. Pramesti tau, belakangan ini pemerintah sering menggencarkan program Biaya Operasional Sekolah. Pramesti sendiri bersyukur, bantuan itu sudah sedikit cukup dapat meringankan beban pikirannya. Walaupun di baliknya masih ada sekumpulan biaya yang harus ia keluarkan demi kelancaran pendidikan kedua anaknya, termasuk biaya seragam sekolah.
            Pramesti membuang lagi pandangannya jauh keluar. Hujan masih dengan setia mengguyur tanah tandus kampung halamannya ini. Langit abu-abu yang menggantung bebas di atas atap rumahnyapun seakan menggambarkan segerombol mendung yang juga menjejal di pikiran Pramesti. Hidup ini keras, dan aku akan menjadi lebih keras darinya.
                       


Tidak ada komentar:

Posting Komentar