Kamis, 14 November 2013

MIMPI AENI (cerpen oleh Winda Falah S. A.)



Panas seperti ini tidak membuat orang-orang yang menghuni kota ini sadar bahwa lapisan ozon bumi kita telah menipis dan memerlukan penghijauan agar udara panas dapat sedikit terkurangi.
Beralih dari udara panas kota di siang ini. Segerombolan anak yang duduk di pinggiran jalan tampak lebih menarik perhatianku. Mereka tampak kotor tak terurus. Kulit hitam menandakan bahwa mereka seringkali terkena paparan sinar matahari kota Jakarta. Belum lagi baju mereka yang tampak kumal dan usang. Seakan-akan benar menandakan bahwa mereka adalah anak-anak jalanan yang katanya dipelihara oleh negara.
Kondisi anak-anak yang aku lihat siang ini benar-benar membuat aku merasa trenyuh. Mereka tampak tidak terurus dan entah apakah mereka mendapat pendidikan yang layak atau tidak. Aku prihatin dan turut memikirkan bagaimana pendidikan para generasi penerus bangsa ini. Bagaimanapun kurang lebih 20 tahun kedepan mungkin merekalah yang akan meneruskan memimpin bangsa.
Keasyikan menceritakan mereka anak-anak yang sungguh membuatku miris dengan keadaan, aku malah lupa menyampaikan kepada kalian siapa aku ini.
Namaku Aeni, aku lahir 23 tahun yang lalu di sebuah daerah pedesaan. Di desa Cibuyur tepatnya. Sebuah desa di selatan kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Aku dilahirkan dari keluarga yang cukup berada. Ayahku adalah seorang pengusaha. Aku pindah ke Jakarta sekitar 4 tahun yang lalu setelah aku lulus dari SMA dan melanjutkan studyku di Universitas Indonesia prodi Psikologi. Alhamdulillah tahun lalu aku berhasil menyelesaikan kuliahku.
●●●

“Nduk.. mau kemana kamu pagi-pagi begini kamu sudah rapih seperti itu ?”
“Jalan-jalan mah. Nyari sesuatu yang beda aja”
“Aku pergi ya mah” aku berjalan meninggalkan rumah setelah sebelumnya mencium tangan mamah dan tidak lupa untuk mengucap salam.
Pagi ini aku langkahkan kaki tanpa tujuan yang jelas di di tengah ramainya ibukota ketika pagi. Tiba-tiba aku teringat akan anak-anak yang aku temui kemarin. Entah apa yang membuatku begitu tertarik dengan mereka.
Aku menghampiri seorang anak yang duduk di dekat trotoar dengan setumpukan koran di lengannya.
“Hai, sedang apa kamu ?”. anak itu tampak melihatku dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Mungkin dalam benaknya siapa aku ini mengganggu keasyikannya.
“Menghitung koran yang tersisa” jawabnya singkat.
“Oh.. ada berita apa hari ini ?”. Dia menggelengkan kepala .
“Tauk. Aku gak bisa baca.” Miris. Seorang penjual koran yang semestinya bisa mengetahui tentang berbagai macam berita, malah tidak bisa membaca dengan baik berita tersebut.
“Apa kamu tidak sekolah ?”
“Tidak ada biaya. Mending jual koran aja bisa dapet uang buat makan.”
“Kamu ingin bisa membaca dan menulis ?”
Dia tampak menganggukan kepala. Aku pun tersenyum. “Tapi, sekolah itu mahal ! bagaimana aku bisa belajar membaca dan menulis sedangkan aku tidak sekolah.”
“Namamu siapa ?”
“Panggil aja Encus. Disini semua teman-temanku memanggilku seperti itu.”
Aku tersenyum. Aku tahu betul bahwa sebenarnya anak yang aku temui ini memang benar-benar ingin bisa membaca dan menulis.
“Oke Encus, kakak bisa ajari Encus membaca dan menulis, gak usah bayar. Gratis buat Encus.”
“Wahh,,, asyikk !!!”
“Ajak teman-teman yang lain yah. Besok kakak akan kesini lagi.”
Encus mengangguk menyetujui perkataanku.
Aku sedikit lega, niatanku untuk sedikit membantu anak-anak itu sedikit demi sedikit dapat terealisasi. Sekarang, aku tinggal memikirkan dimana tempat yang cocok untuk mereka belajar.
“Aku jualan koran dulu kak.”
“Iya.” Jawabku sembari tersenyum kepada Encus si kecil penjual koran. Aku berjalan pulang dengan senyum yang tetap mengembang di wajahku. Senyum gembira karena mimpiku untuk membantu pendidikan akan terwujud.
Sesampainya di rumah ibuku tengah asyik dengan telenovela faforitnya.
“Hari ini bagaimana kabar vulgoso mah ?”
“Oh dia berjalan-jalan dengan Marimar di sekitar pantai hari ini.” Cerita mamah tentang telenovela berjudul Marimar di televisi.
“Seharian ini aku berjalan-jalan di tengah kota mah, aku menemui anak-anak penjual koran. Dan mirisnya, ketika aku bertanya apa berita hari ini, dia menjawab bahwa dia tidak bisa membaca. Anak kecil seumuran dia kan seharusnya mendapatkan bangku sekolah yang layak, malah berjualan koran dan tidak dapat membaca koran yan ia jual mah.” Ceritaku pada mamah yang masih asyik menonton televisi.
Mamah diam sejenak. “Ya seperti itulah, mereka yang menginginkan pendidikan yang layak namun terhalang oleh kemiskinan. Memang ada subsidi untuk pendidikan dari pemerintah. Tetapi, biaya untuk membeli seragam, buku, dan lain-lain juga kan mereka yang membiayayai sendiri.
“Aku ingin membantu mereka mah.”
“Dengan cara apa ?”
“Aku ingin mengajari mereka membaca dan menulis. Mungkin hanya itu yang dapat aku lakukan untuk mereka. Namun, mungkin itu sedikit bermanfaat untuk mereka.”
“Apapun yang kamu lakukan, mamah akan selalu mendukung sayang. Selama apa yang kamu lakukan itu positif.” Kata mamh sambil membelai lembut rambutku. Aku merasa begitu beruntung mempunyai mamah yang selalu mendukungku. Mendukung di setiap langkah-langkahku.
●●●

Hari berganti, pagi ini aku telah berjanji dengan Encus dan kawan-kawannya untuk bertemu dipinggir jalan saat kemarin kita bertemu. Aku mengikat rambut panjangku. Tak lupa aku kenakan jam tangan kesayanganku yang telah menemani aku selama bertahun-tahun.
“Anak mamah pagi ini cantik sekal.” Ujar mamah yang ternyata memperhatikanku berias sedari tadi.
“Iya dong mah. Pagi ini aku ingin menemui Encus bersama teman-temannya.”
“Sepagi inikah ?”
“Ya ! aku sangat bersemangat pagi  ini.”
Mamah tampak tersenyum. “Ya sudah, ayo sarapan, nanti kamu beragkat sekalian sama papah aja. Sepertinya papah pagi ini tidak terlalu terburu-buru.”
“Iya mah.” Aku mengiyakan perintah mamah. Aku keluar dari kamar setelah bersiap-siap. Entah apa yang menyebabkan pagiku kali ini terasa berbeda. Mungkin karena Encus dan teman-temannya.
Mobil melaju cepat meninggalkan rumah. Papah tampak terburu-buru mungkin takut terkena macet. Padatnya kendaraan pagi di kota jakarta memang biasa. Waktu telah menjadi acuan bagi kebanyakan masyarakat Jakarta.
Aku turun dipinggir jalan tepat dimana aku dan Encus kemarin bertemu. Papah kembali memacukan mobilnya dengan cepat setelah menurunkan aku. Aku melihat Encus bersama dengan segerombolan anak. Ia tampak membawa sebuah buku usang sera pinsil. Aku segera menghampiri Encus dan kawan-kawannya.
“Ini teman-temanku kak. Mereka juga ingin belajar membaca dan menulis.” Aku tersenyum mendengar Encus memperkenalkan teman-temannya .
“Bagaimana kalau kita mulai sekarang ?”
“Ayoo. Ayoo..” seru semua anak. “Bagaimana kalau kita belajar disana saja ?” tampak seorang anak menunjuk tempat yang berada tepat dibawah jalan layang. Aku terdiam sejenak.
“Iya kak, disana saja.”suara anak-anak itu menyadarkan aku dari diamku. Aku tersenyum dan berjalan menuju tempat yang ditunjuk tadi. Sungguh tempat yang jauh dari kata nyaman. Aku tak yakinapakah tempat ini cocok untuk belajar mereka. Sudahlah.. toh mereka sendiri yang meminta untuk belajar disini.
“Cus.. mau kemana kamu ?” suara seorang anak menahan langkah kami.
“Belajar.”
“Hahaha.. belajar buat apa ? aku nggak bisa baca sama nulis aja masih bisa dapet duit dari ngamen !”
Encus menjulurkan lidahnya dan mengajakku untuk cepat menuju tempat belajar kita.
“Siapa dia Cus ?” Aku menghampiri Encus. “Daeng.” Jawab Encus singkat.
“Mengapa dia tidak ikut belajar bersama kita ?” “Sudah aku ajak. Tapi dia tidak mau kak.” “ooh..”
Aku mengerti, enggan bergerak dari zona nyaman seseorang memang suatu kendala tersendiri. Anak-anak ini telah melakukan kegiatan sehari-hari mereka selama bertahun-tahun dan aku harus melakukan suatu kegiatan yang lebih menarikdari kegiatan mereka sebelumnya. Aku mulai mengajari mereka membaca dan menulis.
“Daeng..” anak itu menoleh ke arahku.
“Kamu sedang apa ?” “Ngitung duit.” Jawabnya singkat.
“Apakah kamu suka menyanyi ?” “Ya.” “Kamu mau aku ajari menyanyi ?” Daeng memalingkan sejenak wajahnya kepadaku. Matanya tampak berbinar. “Tidak, terimakasih.” Daeng berlalu pergi.
Hem, mungkin, sore ini aku belum berhasil membujuknya bergabung dengan kelompok belajar kami. Tapi aku yakin esok pasti aku bisa membujuknya,
●●●

Sabtu. Dulu hari sabtu seperti ini aku masih bermalas-malasan didalam rumah. Namun sabtu pagi ini aku sudah bersama anak-anak kelompok belajarku. Aku membawa sebuah gitar. Aku ingin mengajak mereka bernyanyi.
“Oke teman-teman, sekarang kita nyanyi-nyanyi yaa.”
Aku mulai memetikkan gitarku. Mengiringi Encus bersama teman-temannya bernyanyi.
“Hei ! nyanyi kok kaya gitu. Main gitar kok fals. Sini !” Tiba-tiba Daeng menghampiriku dan merebut gitar yang tengah aku mainkan. Aku tersenyum dan membiarkan ia memainkan gitarku.
Aku memandang mereka  dari kejauhan. Mereka tampak bahagia. Setelah lagu berhenti, aku menghampiri mereka. Aku memandangi Daeng. Ia tampak senang bisa mengiringi teman-temannya bernyanyi.
“Daeng, kamu mau bergabung bersama kami ?” Daeng tampak diam. Dia memikirkan sesuatu mungkin. Tiba-tiba Daeng menganggukkan kepala. Akhirnya, hari ni aku berhasil membuatnya tertarik dengan kelompok belajarku.
●●●

Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa sebulan sudah aku bersama anak-anak kelompok belajarku. Sore ini aku melangkah gontai menuju kamarku.
“Aeni, mengapa kamu tampak lesu sepreti itu ?” suara papah menahan langkahku. Tumben sekali beliau sore ini sudah berada di rumah.
“Papah sudah pulang ?”
“Sini nduk duduk. Kebetulan kerjaan papah selesai hari ini, jadi papah pulang cepat.”
“Oh.” Jawabku singkat.
“Kenapa kamu tampak lesu ? ada masalah ?”
“Pah sebulan lebih aku bersama-sama dengan anak-anak kelompok belajarku. Aku merasa senang dengan mereka. Encus, Daeng dan teman-temannya. Mereka tampak antusias saat aku ajari membaca dan menulis. Mereka juga tidak keberatan saat aku harus membagi waktu antara pekerjaan mereka dan belajar bersamaku.”
“Lalu ?” jawab papah tampak menyelidiki.
“Aku mendengar bahwa tempat belajar kami akan diterbitkan pah. Dibawah jalan layang itu akan dibersihkan dari sampah, kardus-kardus dan hal lain yang mengotori. Lau diman aku bersama anak-anak itu harus belajar pah ? aku bingung harus bagaiman, dan berbuat apa. Sebagai seseorang yang mengajari mereka, aku tidak mau jika kelompok belajarku dibubarkan sia-sia dan sampai disini saja.”
“Oh.. papah mengerti. Sekarang, istirahatlah dn pasti kamu akan menemukan jalan keluar sayang.”
Aku melangkahgontai menuju kamarku. Entah apa yang akan terjadi esok.
●●●

Benar saja, pagi ini aku melihat tempat belajarku bersama Encustelah tiada.tempat itu rapih dan bersih. Aku lemas. Entah apa yang harus aku lakukan. Encus dan teman-temannya menangis. Mereka tampak begitu sedih.
“Aeni.. papah punya sesuatu buat kamu.” Aku terkejut menyadari papah ada dibelakangku.
Papah mengajakku bersama Encus dan teman-temannya ke suatu tempat. “Aeni, papah ingin kelompok belajarmu masuk ke yayasan ini. Kamu tetap bisa mengajar dan bertemu merekatanpa kebingungan tentang tempat lagi.”
“Terimakasih pah..” aku menangis terharu dan memeluk papah.
Aku merasa begitu senang. Kelompok belajarku mendapatkan tempat yang layak untuk belajar. Mereka tampak begitu semangat dan memiliki antusias yang tinggi dalam belajar. Aku merasa mimpiku nyata terwujud.

SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar