Panas seperti ini tidak membuat
orang-orang yang menghuni kota ini sadar bahwa lapisan ozon bumi kita telah
menipis dan memerlukan penghijauan agar udara panas dapat sedikit terkurangi.
Beralih dari udara panas kota di siang
ini. Segerombolan anak yang duduk di pinggiran jalan tampak lebih menarik
perhatianku. Mereka tampak kotor tak terurus. Kulit hitam menandakan bahwa
mereka seringkali terkena paparan sinar matahari kota Jakarta. Belum lagi baju
mereka yang tampak kumal dan usang. Seakan-akan benar menandakan bahwa mereka
adalah anak-anak jalanan yang katanya dipelihara oleh negara.
Kondisi anak-anak yang aku lihat siang
ini benar-benar membuat aku merasa trenyuh. Mereka tampak tidak terurus dan
entah apakah mereka mendapat pendidikan yang layak atau tidak. Aku prihatin dan
turut memikirkan bagaimana pendidikan para generasi penerus bangsa ini.
Bagaimanapun kurang lebih 20 tahun kedepan mungkin merekalah yang akan
meneruskan memimpin bangsa.
Keasyikan menceritakan mereka anak-anak
yang sungguh membuatku miris dengan keadaan, aku malah lupa menyampaikan kepada
kalian siapa aku ini.
Namaku Aeni, aku lahir 23 tahun yang
lalu di sebuah daerah pedesaan. Di desa Cibuyur tepatnya. Sebuah desa di
selatan kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Aku dilahirkan dari keluarga yang
cukup berada. Ayahku adalah seorang pengusaha. Aku pindah ke Jakarta sekitar 4
tahun yang lalu setelah aku lulus dari SMA dan melanjutkan studyku di
Universitas Indonesia prodi Psikologi. Alhamdulillah tahun lalu aku berhasil
menyelesaikan kuliahku.
●●●
“Nduk..
mau kemana kamu pagi-pagi begini kamu sudah rapih seperti itu ?”
“Jalan-jalan
mah. Nyari sesuatu yang beda aja”
“Aku
pergi ya mah” aku berjalan meninggalkan rumah setelah sebelumnya mencium tangan
mamah dan tidak lupa untuk mengucap salam.
Pagi ini aku langkahkan kaki tanpa
tujuan yang jelas di di tengah ramainya ibukota ketika pagi. Tiba-tiba aku
teringat akan anak-anak yang aku temui kemarin. Entah apa yang membuatku begitu
tertarik dengan mereka.
Aku menghampiri seorang anak yang duduk
di dekat trotoar dengan setumpukan koran di lengannya.
“Hai,
sedang apa kamu ?”. anak itu tampak melihatku dengan tatapan heran dan
bertanya-tanya. Mungkin dalam benaknya siapa aku ini mengganggu keasyikannya.
“Menghitung
koran yang tersisa” jawabnya singkat.
“Oh.. ada berita apa hari ini ?”. Dia menggelengkan kepala .
“Oh.. ada berita apa hari ini ?”. Dia menggelengkan kepala .
“Tauk.
Aku gak bisa baca.” Miris. Seorang penjual koran yang semestinya bisa mengetahui
tentang berbagai macam berita, malah tidak bisa membaca dengan baik berita
tersebut.
“Apa
kamu tidak sekolah ?”
“Tidak
ada biaya. Mending jual koran aja bisa dapet uang buat makan.”
“Kamu
ingin bisa membaca dan menulis ?”
Dia tampak menganggukan kepala. Aku pun
tersenyum. “Tapi, sekolah itu mahal ! bagaimana aku bisa belajar membaca dan
menulis sedangkan aku tidak sekolah.”
“Namamu
siapa ?”
“Panggil
aja Encus. Disini semua teman-temanku memanggilku seperti itu.”
Aku tersenyum. Aku tahu betul bahwa
sebenarnya anak yang aku temui ini memang benar-benar ingin bisa membaca dan
menulis.
“Oke
Encus, kakak bisa ajari Encus membaca dan menulis, gak usah bayar. Gratis buat
Encus.”
“Wahh,,,
asyikk !!!”
“Ajak
teman-teman yang lain yah. Besok kakak akan kesini lagi.”
Encus mengangguk menyetujui perkataanku.
Aku sedikit lega, niatanku untuk sedikit
membantu anak-anak itu sedikit demi sedikit dapat terealisasi. Sekarang, aku
tinggal memikirkan dimana tempat yang cocok untuk mereka belajar.
“Aku
jualan koran dulu kak.”
“Iya.”
Jawabku sembari tersenyum kepada Encus si kecil penjual koran. Aku berjalan
pulang dengan senyum yang tetap mengembang di wajahku. Senyum gembira karena
mimpiku untuk membantu pendidikan akan terwujud.
Sesampainya di rumah ibuku tengah asyik
dengan telenovela faforitnya.
“Hari
ini bagaimana kabar vulgoso mah ?”
“Oh
dia berjalan-jalan dengan Marimar di sekitar pantai hari ini.” Cerita mamah
tentang telenovela berjudul Marimar di televisi.
“Seharian
ini aku berjalan-jalan di tengah kota mah, aku menemui anak-anak penjual koran.
Dan mirisnya, ketika aku bertanya apa berita hari ini, dia menjawab bahwa dia
tidak bisa membaca. Anak kecil seumuran dia kan seharusnya mendapatkan bangku
sekolah yang layak, malah berjualan koran dan tidak dapat membaca koran yan ia
jual mah.” Ceritaku pada mamah yang masih asyik menonton televisi.
Mamah diam sejenak. “Ya seperti itulah,
mereka yang menginginkan pendidikan yang layak namun terhalang oleh kemiskinan.
Memang ada subsidi untuk pendidikan dari pemerintah. Tetapi, biaya untuk
membeli seragam, buku, dan lain-lain juga kan mereka yang membiayayai sendiri.
“Aku
ingin membantu mereka mah.”
“Dengan
cara apa ?”
“Aku
ingin mengajari mereka membaca dan menulis. Mungkin hanya itu yang dapat aku
lakukan untuk mereka. Namun, mungkin itu sedikit bermanfaat untuk mereka.”
“Apapun
yang kamu lakukan, mamah akan selalu mendukung sayang. Selama apa yang kamu
lakukan itu positif.” Kata mamh sambil membelai lembut rambutku. Aku merasa
begitu beruntung mempunyai mamah yang selalu mendukungku. Mendukung di setiap
langkah-langkahku.
●●●
Hari berganti, pagi ini aku telah
berjanji dengan Encus dan kawan-kawannya untuk bertemu dipinggir jalan saat
kemarin kita bertemu. Aku mengikat rambut panjangku. Tak lupa aku kenakan jam
tangan kesayanganku yang telah menemani aku selama bertahun-tahun.
“Anak
mamah pagi ini cantik sekal.” Ujar mamah yang ternyata memperhatikanku berias
sedari tadi.
“Iya
dong mah. Pagi ini aku ingin menemui Encus bersama teman-temannya.”
“Sepagi
inikah ?”
“Ya
! aku sangat bersemangat pagi ini.”
Mamah tampak tersenyum. “Ya sudah, ayo
sarapan, nanti kamu beragkat sekalian sama papah aja. Sepertinya papah pagi ini
tidak terlalu terburu-buru.”
“Iya
mah.” Aku mengiyakan perintah mamah. Aku keluar dari kamar setelah
bersiap-siap. Entah apa yang menyebabkan pagiku kali ini terasa berbeda.
Mungkin karena Encus dan teman-temannya.
Mobil melaju cepat meninggalkan rumah.
Papah tampak terburu-buru mungkin takut terkena macet. Padatnya kendaraan pagi
di kota jakarta memang biasa. Waktu telah menjadi acuan bagi kebanyakan
masyarakat Jakarta.
Aku turun dipinggir jalan tepat dimana
aku dan Encus kemarin bertemu. Papah kembali memacukan mobilnya dengan cepat
setelah menurunkan aku. Aku melihat Encus bersama dengan segerombolan anak. Ia
tampak membawa sebuah buku usang sera pinsil. Aku segera menghampiri Encus dan
kawan-kawannya.
“Ini
teman-temanku kak. Mereka juga ingin belajar membaca dan menulis.” Aku
tersenyum mendengar Encus memperkenalkan teman-temannya .
“Bagaimana
kalau kita mulai sekarang ?”
“Ayoo.
Ayoo..” seru semua anak. “Bagaimana kalau kita belajar disana saja ?” tampak
seorang anak menunjuk tempat yang berada tepat dibawah jalan layang. Aku
terdiam sejenak.
“Iya
kak, disana saja.”suara anak-anak itu menyadarkan aku dari diamku. Aku
tersenyum dan berjalan menuju tempat yang ditunjuk tadi. Sungguh tempat yang
jauh dari kata nyaman. Aku tak yakinapakah tempat ini cocok untuk belajar
mereka. Sudahlah.. toh mereka sendiri yang meminta untuk belajar disini.
“Cus..
mau kemana kamu ?” suara seorang anak menahan langkah kami.
“Belajar.”
“Hahaha..
belajar buat apa ? aku nggak bisa baca sama nulis aja masih bisa dapet duit
dari ngamen !”
Encus menjulurkan lidahnya dan
mengajakku untuk cepat menuju tempat belajar kita.
“Siapa
dia Cus ?” Aku menghampiri Encus. “Daeng.” Jawab Encus singkat.
“Mengapa
dia tidak ikut belajar bersama kita ?” “Sudah aku ajak. Tapi dia tidak mau
kak.” “ooh..”
Aku mengerti, enggan bergerak dari zona
nyaman seseorang memang suatu kendala tersendiri. Anak-anak ini telah melakukan
kegiatan sehari-hari mereka selama bertahun-tahun dan aku harus melakukan suatu
kegiatan yang lebih menarikdari kegiatan mereka sebelumnya. Aku mulai mengajari
mereka membaca dan menulis.
“Daeng..”
anak itu menoleh ke arahku.
“Kamu
sedang apa ?” “Ngitung duit.” Jawabnya singkat.
“Apakah
kamu suka menyanyi ?” “Ya.” “Kamu mau aku ajari menyanyi ?” Daeng memalingkan
sejenak wajahnya kepadaku. Matanya tampak berbinar. “Tidak, terimakasih.” Daeng
berlalu pergi.
Hem, mungkin, sore ini aku belum
berhasil membujuknya bergabung dengan kelompok belajar kami. Tapi aku yakin
esok pasti aku bisa membujuknya,
●●●
Sabtu. Dulu hari sabtu seperti ini aku
masih bermalas-malasan didalam rumah. Namun sabtu pagi ini aku sudah bersama
anak-anak kelompok belajarku. Aku membawa sebuah gitar. Aku ingin mengajak
mereka bernyanyi.
“Oke
teman-teman, sekarang kita nyanyi-nyanyi yaa.”
Aku mulai memetikkan gitarku. Mengiringi
Encus bersama teman-temannya bernyanyi.
“Hei
! nyanyi kok kaya gitu. Main gitar kok fals. Sini !” Tiba-tiba Daeng
menghampiriku dan merebut gitar yang tengah aku mainkan. Aku tersenyum dan
membiarkan ia memainkan gitarku.
Aku memandang mereka dari kejauhan. Mereka tampak bahagia. Setelah
lagu berhenti, aku menghampiri mereka. Aku memandangi Daeng. Ia tampak senang
bisa mengiringi teman-temannya bernyanyi.
“Daeng,
kamu mau bergabung bersama kami ?” Daeng tampak diam. Dia memikirkan sesuatu mungkin.
Tiba-tiba Daeng menganggukkan kepala. Akhirnya, hari ni aku berhasil membuatnya
tertarik dengan kelompok belajarku.
●●●
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak
terasa sebulan sudah aku bersama anak-anak kelompok belajarku. Sore ini aku
melangkah gontai menuju kamarku.
“Aeni,
mengapa kamu tampak lesu sepreti itu ?” suara papah menahan langkahku. Tumben
sekali beliau sore ini sudah berada di rumah.
“Papah
sudah pulang ?”
“Sini
nduk duduk. Kebetulan kerjaan papah selesai hari ini, jadi papah pulang cepat.”
“Oh.”
Jawabku singkat.
“Kenapa
kamu tampak lesu ? ada masalah ?”
“Pah
sebulan lebih aku bersama-sama dengan anak-anak kelompok belajarku. Aku merasa
senang dengan mereka. Encus, Daeng dan teman-temannya. Mereka tampak antusias
saat aku ajari membaca dan menulis. Mereka juga tidak keberatan saat aku harus
membagi waktu antara pekerjaan mereka dan belajar bersamaku.”
“Lalu
?” jawab papah tampak menyelidiki.
“Aku
mendengar bahwa tempat belajar kami akan diterbitkan pah. Dibawah jalan layang
itu akan dibersihkan dari sampah, kardus-kardus dan hal lain yang mengotori.
Lau diman aku bersama anak-anak itu harus belajar pah ? aku bingung harus
bagaiman, dan berbuat apa. Sebagai seseorang yang mengajari mereka, aku tidak
mau jika kelompok belajarku dibubarkan sia-sia dan sampai disini saja.”
“Oh..
papah mengerti. Sekarang, istirahatlah dn pasti kamu akan menemukan jalan
keluar sayang.”
Aku melangkahgontai menuju kamarku.
Entah apa yang akan terjadi esok.
●●●
Benar saja, pagi ini aku melihat tempat
belajarku bersama Encustelah tiada.tempat itu rapih dan bersih. Aku lemas.
Entah apa yang harus aku lakukan. Encus dan teman-temannya menangis. Mereka
tampak begitu sedih.
“Aeni..
papah punya sesuatu buat kamu.” Aku terkejut menyadari papah ada dibelakangku.
Papah mengajakku bersama Encus dan
teman-temannya ke suatu tempat. “Aeni, papah ingin kelompok belajarmu masuk ke
yayasan ini. Kamu tetap bisa mengajar dan bertemu merekatanpa kebingungan
tentang tempat lagi.”
“Terimakasih
pah..” aku menangis terharu dan memeluk papah.
Aku merasa begitu senang. Kelompok
belajarku mendapatkan tempat yang layak untuk belajar. Mereka tampak begitu
semangat dan memiliki antusias yang tinggi dalam belajar. Aku merasa mimpiku
nyata terwujud.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar